Skip to content

Nenek dan surat wasiat

by on October 25, 2009

Nenek Ani dirawat di rumah sakit. Menurut dokter, asmanya sudah semakin parah; hingga perlu dipasang saluran oksigen.

Sudah beberapa hari dia tidak bicara, dan seperti orang koma. Dikira sudah menjelang ajal, anaknya memanggilkan Pak Mudhin (tukang do’a) agar didoakan.

Sedang asyik Pak Mudhin berdoa, tiba-tiba muka nenek Ani berubah membiru seolah-olah tidak bernafas. Tangannya menggigil. Dengan menggunakan bahasa isyarat nenek Ani minta diambilkan kertas dan alat tulis. Sisa tenaga yang ada, digunakan oleh nenek Ani untuk menulis sesuatu, dan memberi kertas tersebut kepada Pak Mudhin.

Sambil terus berdoa, Pak Mudhin langsung menyimpan kertas tsb tanpa membacanya; krn pikirnya, dia tidak sanggup membaca surat wasiat tsbt didepan Ani.

Tak lama kemudian nenek Ani meninggal dunia. Pada hari ketujuh meninggalnya nenek Ani, Pak Mudhin diundang untuk datang kerumah Ani.

Selesai memimpin do’a, Pak Mudhin berbicara, “Saudara-saudara sekalian, ini ada surat wasiat dari almarhum nenek Ani yang belum sempat saya sampaikan, yang pasti nasehat untuk anak-cucunya semua. Mari kita sama-sama membaca suratnya.”

Pak Mudhin membaca surat tsb, “Mudhin jangan berdiri di situ…! Selang nenek ke injek..!!X_X =))=))

From → Uncategorized

One Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: